Berikutijasah dari KH A Mustofa Bisri Rembang, KH. ABDUL KHANAN MAKSUM kwagean pare Kediri, KH. MAHRUS A'LY LIRBOYO, KH. ABDUL LATIF MUHAMMAD, KH. Abdul Syukur pengasuh PONPES AL ISLAH DLOPO, dan banyak kyai lain. Baca sholawat: SHOLLALLOHU A'LA MUHAMMAD. 1000 x / 3333 x/7.000 x/10.000 x tiap hari. atau sebanyak kita mampu.
SIAPASIH SOSOK PANGERAN SAMBER NYOWO ITU? Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 - meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun) adalah pendiri Praja Mangkunegaran , sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur
Inilaheyang suro vs gus maksum dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik eyang suro vs gus maksum serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang eyang suro vs gus maksum. Semoga bermanfaat!
KabupatenKebumen Sejarah Gelap, Mahapatih GajahMada, Ki Ageng Pemanahan, Sultan Agung Hanyakrakusuma, Amangkurat 1, Pangeran Diponegoro, Ke
KEUTAMAANBERZIKIR KEPADA ALLAH. BERDZIKIR KEPADA ALLAH DENGAN MENGGUNAKAN SAEFI - SAEFI Juni 12, 2017 PENGETAHUAN TENTANG ILMU SAEFI. Dulu dalam dunia ilmu-ilmu ghaib, saef sangat terkenal. Mungkin dari para pembaca pun sudah pernah mendengar saefi Angin, Saefi Air dan macam-macam sefi lainnya.. Dilihat dari pengertinnya, saefi berasal dari bahasa Arab yaitu yang memiliki arti "Pedang
GusMaksum. Kiyai Maksum Djauhari atau yang lebih dikenal sebagai Gus Maksum merupakan seorang Kyai paling sakti di Tanah Jawa dengan kesaktian ilmu kanuragan yang tinggi. Sebab itulah Gus Maksum justru dikenal sebagai pendekar berkat kepiawaiannya dalam mengaji kitab kuning sekaligus juga ahli dalam seni beladiri atau silat. Beliau merupakan
5MEI 2017 8 SYA'BAN 1438 NO 2199 /TAHUN 6. Sirkulasi / 0851 0212 2000 Iklan 0274 557 687 (417) 0851 0012 1000 0857 2949 3333. RP 2.000. LANGGANAN RP 55.000. www.tribunjogja.com. likes: tribun
part1 - 2 - https://youtu.be/1tyhZoeXc6wpart 3 - https://youtu.be/WXecCU_MtyUVidio ini menceritakan bagaimana sejarah pagar
Adivs cewek cantik. 40. Adi vs cewek cantik. 93. pagar Nusa pencak silat e . Gus Maksum guru besar e songolas iku taune. 118. 4 kawan sejati. 72. SDN mernung. 90. pasukan Cepu. 24. Dapatkan aplikasi.
PakLatif menceritakan pengalamannya saat berguru pencak silat kepada Alm. Gus Maksum, beliau banyak diberi ijazah dan menyaksikan Karomah yang dimiliki oleh
FJ9D. Inilah eyang kardi sukarno pulo satu karawang dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik eyang kardi sukarno pulo satu karawang serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang eyang kardi sukarno pulo satu karawang. Semoga bermanfaat! Banyak orang bilang Sukarno itu nggak paham ilmu ekonomi, Sukarno itu ganyang Malaysia untuk menolehkan perhatian rakyat pada ekonomi yang amburadul. Padahal Sukarno ini benar-benar mendalami apa yang dinamakan Ilmu……hidup dalam kemiskinan ini. Tentu saja perempuan ini sangat senang dan berterima kasih dengan bantuan Eyang Jugo. Sesuatu yang sudah menjadi tabiat Eyang Jugo dalam membantu sesama. Ketika Eyang Jugo……pada hari Jumat Legi hari pemakaman Eyang Jugo dan tanggal 12 bulan Suro memperingati wafatnya Eyang Sujo. Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan……Sukarno tidak akan takut dengan kekuatan militer Amerika Serikat, ia sudah terbiasa menghadapi teater perang besar. Bahkan di hadapan Dadong nama panggilan Presiden Filipina-Macapagal, Sukarno menyatakan siap menghadapi perang sebesar……mengkritik pola pembinaan PNI. Hingga partai PNI dibubarkan pada 1931 yang berakhir dengan penahanan Sukarno. Hatta sendiri menginginkan berdirinya partai alternatif pengganti PNI Sukarno. Pada 1931, setelah Hatta pulang ke… – Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo Eyang Suro nama kecilnya adalah Muhamad Masdan, yang lahir pada tahun 1876 di Surabaya putra sulung Ki Ngabei Soeromihardjo mantri cacar di ngimbang kab……sipil dan berani menghajar Sukarno, berbeda dengan jenderal lulusan KNIL yang cenderung taat pada otoritas sipil. Karir Suharto melejit setelah ia mendengarkan pengumuman bahwa Sukarno telah memerdekakan Indonesia. Ia sendiri……pahlawan yang paling baik. Begitulah nama Kusno telah berganti menjadi Karno… Sukarno. Namanya satu kata saja SUKARNO. Maka, ketika ada wartawan asing menuliskan nama Ahmad di depan kata Sukarno, Bung……saya ingat dengan apa yang dulu diceritakan eyang-eyang ku, bahwa orang yang mengalami reinkarnasi, yang diingat hanya siapa orang tuanya, dan apa saja dosa-dosanya dulu waktu masih hidup di dunia… Demikianlah beberapa uraian kami tentang eyang kardi sukarno pulo satu karawang. Jika Anda merasa belum jelas, bisa juga langsung mengajukan pertanyaan kepada MENARIK LAINNYAciri ciri keturunan brawijaya v, jodoh satrio piningit, Ciri keturunan Aji Saka, Pangeran sangga buana, asal usul mahesa suro, Ciri-ciri fisik keturunan Banten, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, Ciri-ciri KETURUNAN Tubagus, ciri keturunan batoro katong, silsilah keturunan dewi lanjar
Imam Syiah itu Maksum, Benarkah? by Akmal Bilhaq 24 September 2021 0 Kemaksuman para imam merupakan ajaran pokok yang paling penting dalam syiah, sebab tanpa adanya kemaksuman, berbagai pujian melangit yang mereka ...
11. Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong Merpati Putih atau disingkat PPS Betako Merpati Putih didirikan pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta. Jauh pada masa sebelumnya, ilmu Merpati Putih diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keluarga pada masa Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pangeran Prabu Mangkurat Ingkang Jumeneng Ing Kartosuro atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sri Susuhunan Amangkurat II, pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartosuro yang memerintah pada tahun 1677 1703. Karena kondisi yang ditimbulkan oleh penjajah kolonial Belanda pada saat itu, Pangeran Prabu Amangkurat II mengadakan pengungsian di daerah Bagelen, wilayah terpencil di Yogyakarta, bersama cicit perempuannya, yaitu Djojoredjoso. Disela-sela kesibukannya dalam memikirkan mengatur situasi kenegaraan kerajaan, beliau sempat membimbing, menggembleng serta mengawasi cicitnya dalam menekuni ilmu beladiri. Djojoredjoso kemudian mewariskan ilmunya kepada tiga orang putranya, yaitu Gagak Handoko, Gagak Samoedro, dan Gagak Seto, menurut spesialisasinya masing-masing. Gagak Samoedro diwarisi ilmu pengobatan, Gagak Seto diwarisi ilmu sastra dan Gagak Handoko diwarisi seni beladiri. Konon tiga saudara ini tercerai berai karena kondisi penjajahan kolonial pada saat itu. Semasa pelariannya, Gagak Samoedro mendirikan perguruan di Gunung Jeruk di daerah Pegunungan Menoreh. Gagak Handoko mendirikan perguruan di daerah Bagelen, yang akhirnya pindah ke daerah utara Pulau Jawa. Gagak Seto mendirikan perguruan di daerah sekitar Magelang, Jawa Tengah. Lewat Raden Gagak Handoko inilah garis sejarah warisan ilmu yang dikenal sebagai Merpati Putih tidak terputus. Namun Gagak Handoko mengerti bahwa ajaran perguruan tersebut sebenarnya kurang lengkap, maka beliau tidak segera mengembangkan dan menurunkan kepada keturunannya, akan tetapi berusaha keras menelaah dan menjabarkan ilmu tersebut lalu menuangkan dalam gerakan silat dan tenaga tersimpan yang ada di naluri suci. Beliau sadar akan usia ketuaannya yang tidak sanggup lagi melanjutkan pengembangannya, maka beliau memberi mandat penuh dan amanat kepada keturunannya, yaitu R. Bongso Permono Ing Ngoelakan Wates, untuk melanjutkan perkembangan perguruan. Dan setelah Gagak Handoko menyerahkan tumpuk kepemimpinan perguruan, beliau lalu pergi menyepi bertapa hingga sampai meninggalnya di Gunung Jeruk. Karena menyadari perkembangan perguruan yang kurang baik, R. Bongso Permono, menurunkan ilmunya kepada keturunannya yaitu Wongso Widjojo dan kemudian mengikuti jejak ayahnya mencari kesempurnaan. Karena tidak mempunyai keturunan, Wongso Widjojo mengambil murid yang kebetulan dalam keluarga masih ada hubungan cucu yang bernama R. Saring Siswo Hadi Poernomo. Dari R. Saring Siswo Hadi Poernomo ilmu beladiri ini kemudian diturunkan kepada dua orang putranya, yaitu Poerwoto Hadi Poernomo dan Budi Santoso Hadi Poernomo. R. Saring Hadi Poernomo pada awal tahun 1960-an prihatin terhadap perkembangan kehidupan generasi muda yang terkotak-kotak membentuk kelompok-kelompok yang mencerminkan rapuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Atas dasar hal tersebut, tergerak hati nurani beliau untuk berbuat sesuatu demi kecintaannya kepada nusa, bangsa, dan negara. Pada tahun 1962, R. Saring Siswo Hadi Poernomo mengamanahkan kepada pewarisnya agar ilmunya disebarluaskan. Kedua pewaris yang juga puteranya, yaitu Poerwoto Hadi Poernomo Mas Poeng dan Budi Santoso Hadi Poernomo Mas Budi bertekad mengambil langkah nyata dalam pengabdian kepada bangsa dan negara Republik Indonesia dengan mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu yang dimiliki keluarga untuk kepentingan nasional. Untuk itu pada tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta didirikan perguruan dengan nama PPS Betako Merpati Putih. Merpati Putih berkembang cukup pesat, terutama sejak mendapat kepercayaan untuk melatih anggota ABRI. Diawali dengan melatih anggota Seksi I Korem 072 Pamungkas dan anggota Batalyon Infanteri 403 Wirasada Pratista. Pada tahun 1968 Merpati Putih ekspansi ke luar Yogyakarta, yang pertama di Madiun, hingga berkembang ke Pusdik Brimob Polri di Watukosek, Jawa Timur. Pada tahun 1976 Merpati Putih melatih anggota Pasukan Pengawal Presiden dan dilanjutkan pada tahun 1977 melatih anggota Komando Pasukan Sandi Yudha Kopassandha yang di kemudian hari berubah nama menjadi Komando Pasukan Khusus Kopassus. Sejak tahun 1995, atas prakarsa dan kerja sama dengan Yayasan Kartika Destarata di bawah pimpinan Ibu Hj. Oetari K. Hartono dan Ibu Titiek Prabowo, Merpati Putih mengembangkan kegiatan pembinaannya terhadap tuna netra. Pada tahun 2002 Mas Budi meninggal dunia, disusul kemudian pada tahun 2014 Mas Poeng juga meninggal dunia. Sebagai penerusnya, pewaris berikutnya adalah putra-putranya, yaitu Amos Priono Tri Nugroho dan Nehemia Budi Setyawan. 12. Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia Perguruan Pencak Silat Satria Muda Indonesia atau disingkat PPS Satria Muda Indonesia didirikan pada tanggal 19 Juli 1987 di Lembah Pinus Ciloto, Cianjur, Jawa Barat. Berawal pada kegiatan demonstrasi pencak silat pada acara Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, tiga orang pendekar silat dari Sumatera Barat yaitu H. Aboe Zahar, Mayor H. Oemar Machtoeb, dan Lebe Malin Soetan, mengadakan pertemuan dan sepakat untuk mendirikan perguruan silat dengan nama Baringin Sakti yang khusus mengajarkan silat Minangkabau. Konon nama Baringin Sakti dipilih karena di pusat Kota Padang tumbuh pohon beringin yang besar dan kuat selama ratusan tahun. Perguruan Silat Baringin Sakti mengajarkan silat beraliran Harimau, Kumango, Lintau, dan Pauh. Salah satu murid H. Aboe Zahar, yaitu Letjen TNI H. Prabowo Subianto, pada era tahun 1980-an merasa prihatin atas kurang diminatinya seni beladiri khas Indonesia ini oleh bangsanya sendiri, apalagi dengan mulai menjamurnya klub-klub seni beladiri dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Letjen TNI H. Prabowo Subianto mengajak para seniornya untuk mengembangkan Baringin Sakti yang beraliran silat Minangkabau menjadi suatu bentuk organisasi pencak silat yang beraliran nasional. Kemudian berdirilah secara resmi organisasi yang diberi nama PPS Satria Muda Indonesia pada tanggal 19 Juli 1987 di Lembah Pinus Ciloto, Jawa Barat. Tokoh-tokoh perintis PPS Satria Muda Indonesia adalah generasi muda murid-murid H. Aboe Zahar dari Perguruan Silat Baringin Sakti, yaitu Letjen TNI H. Prabowo Subianto, Mayjen TNI H. Ismet Yuzairi Chaniago, Mayjen TNI Ampi Nurkamal Tanudjiwa, Drs. Edward Lebe Indra Chatib, Yan Yulidar, Ir. Lukman H. Robinsyah Goffar, dan Ir. Erizal Chaniago. Pada saat itu juga hadir untuk bergabung beberapa pendekar dari Banten, Pandeglang, Tangerang, dan Sukabumi. Pada perkembangannya, PPS Satria Muda Indonesia juga merangkul tokoh-tokoh aliran pencak silat lain yang ada di nusantara untuk bergabung dan menjadikannya sebagai pelajaran dalam perguruan ini, di antaranya yaitu aliran silat Minang seperti Silek Tuo, Silek Buayo, Silek Sitaralak, dan juga pencak Sunda seperti Cikalong, Cimande, dan Sabandar. Sedangkan silat Betawi seperti Bongkar Kandang dan Beksi serta aliran-aliran pencak silat lainnya juga ikut diajarkan di perguruan ini. Konsep pengajarannya adalah diberi pemahaman jurus-jurus kaedah PPS Satria Muda Indonesia, kemudian pada tingkatan lanjut murid akan diminta untuk memilih aliran mana yang diminati. Jika Cimande, maka murid akan belajar kepada guru Cimande yang sudah bergabung di PPS Satria Muda Indonesia, demikian juga bila ingin belajar silek Minang. Dari penjurusan ini diharapkan murid bisa memilih aliran berdasarkan bakat dan minat sehingga bisa melestarikan budaya bangsa dan mensejahterakan guru aliran tradisional. 13. Perguruan Silat Nasional Asad Perguruan Silat Nasional Asad atau disingkat Persinas Asad didirikan pada tanggal 30 April 1993. Persinas Asad bermaksud menghimpun seluruh potensi bangsa yang memiliki persamaan cita-cita, wawasan, dan tujuan dalam melestarikan budaya bangsa, khususnya ilmu seni beladiri pencak silat nasional yang bersumber dari aliran silat Cimande, Kunto, Cikaret, Singa Mogok, Nagan, Cikalong, Syahbandar, Garuda Mas, Sabeni, dan Tangkap Menangkap. Bagi Persinas Asad, melestarikan ilmu dan seni beladiri pencak silat berarti melestarikan budaya bangsa yang merupakan upaya meningkatkan kualitas mental dan fisik bangsa Indonesia guna mempercepat terwujudnya tujuan nasional dengan moto Ampuh Sehat Aman Damai. Persinas Asad merupakan perguruan silat yang dilatarbelakangi oleh beberapa aliran silat di Indonesia, di antaranya yaitu aliran Cimande yang berjuluk Cimande Tari Kolot dari H. Rachmat Ace Sutisna, aliran silat Karawang yang berjuluk Singa Mogok dari H. Sulaiman, dan aliran silat Indramayu dari Ahmad. 14. Pencak Silat Tenaga Dasar Indonesia Pencak Silat Tenaga Dasar Indonesia atau disingkat PSTD Indonesia lahir dari sebuah beladiri kuno yang bernama Kateda, yaitu aliran beladiri yang didirikan oleh biksu dari Tibet bernama Tagashi yang mengembara ke Gunung Bromo. Pada tahun 1984, Jimmy Thaibsyah membuka cabang perguruan Kateda di Bandung yang berafiliasi ke Kateda International yang berpusat di Inggris pimpinan Lionel Henry Nasution. Dalam waktu yang relatif singkat perguruan Kateda pimpinan Jimmy Thaibsyah berkembang pesat di daerah Jawa Barat. Seiring perkembangannya, terjadi perbedaan-perbedaan prinsip antara pimpinan Kateda di Indonesia dan Kateda International. Karena hal itu, Jimmy Thaibsyah memisahkan diri dari induk perguruannya dan mendirikan perguruan baru di Indonesia bersama Rosano Barack dan Bambang Trihatmodjo dengan Laksamana Madya TNI Arie Soedewo sebagai pelindung. Perguruan tersebut diberi nama Kesatuan Aliran Tenaga Dasar Indonesia atau disingkat Kateda Indonesia. Berdasarkan hasil rakernas pertama pada tanggal 2 Juni 1991, agar lebih mencerminkan jati diri sebagai suatu perguruan pencak silat, maka nama Kateda Indonesia dirubah menjadi perguruan Pencak Silat Tenaga Dasar Indonesia atau PSTD Indonesia. PSTD Indonesia mempelajari suatu ilmu dengan berintikan penggabungan antara pernafasan dan konsentrasi sehingga menghasilkan suatu bentuk kekuatan pada tubuh manusia. PSTD Indonesia memperkuat ilmu dan teknik beladirinya dengan tenaga dasar, yaitu tenaga alamiah dan utama yang terdapat dalam diri manusia yang menjadi dasar bagi pengembangan tenaga lainnya untuk membina kesegaran, kekuatan, ketangkasan, dan ketahanan fisik. Tenaga dasar juga bermanfaat untuk kesehatan tubuh manusia. Yang utama dari ilmu beladiri ini adalah pertahanan. Tidak memupuk ambisi menyerang berarti memancarkan beladiri yang sebenarnya, yaitu membela diri untuk tetap mampu berdiri tegak tanpa merasa sakit ataupun luka yang dapat membahayakan tubuh. Tenaga dasar didedikasikan untuk menciptakan persaudaraan dan kedamaian, sesuai dengan moto PSTD Indonesia, yaitu kesehatan, beladiri, kedamaian. 15. Lembaga Pengembangan Ilmu Terapi Tenaga Dalam Kalimasada Ir. Eddy Surohadi mewujudkan cita-citanya untuk menciptakan suatu metodologi keilmuan tenaga dalam yang praktis dan modern dengan menjauhi hal-hal yang berbau mistik dan syirik. Metodologi keilmuan ini kemudian diberinya nama Kalimasada. Muridnya yang pertama belajar metodologi keilmuan ciptaanya ini adalah istrinya sendiri, dr. Ida Surohadi, beserta adik kandungnya yang nomor enam. Selanjutnya dr. Ida Surohadi, diserahi tanggung jawab membina bidang kepelatihan sebagai Ketua Dewan Pelatih Pusat sampai sekarang. Setelah bulan Oktober 1994, adiknya yang nomor tujuh, Drs. Joko H. Suroso, diserahi tanggungjawab untuk membantu membina bidang keilmuan. Adiknya yang nomor tujuh ini tekun mempelajari ilmu Tetada Kalimasada langsung dari kakak sulungnya. Selanjutnya semua adik-adiknya belajar metodologi keilmuan ini. Diantara adik-adiknya tersebut yang paling menguasai dan aktif mengembangkan metodologi keilmuan tenaga dalam ciptaan Ir. Eddy Surohadi ini adalah Drs. Ec. Joko Heruroso dan dr. Ida Surohadi, Pengenalan keilmuan Tetada Kalimasada kepada masyarakat umum dimulai pada acara ujian anggota perdana yang pertama yang dilaksanakan di Hotel Elmi Surabaya pada tanggal 24 November 1991. Tanggal inilah yang selalu diperingati setiap tahun sebagai tanggal berdirinya Tetada Kalimasada Indonesia. Pada saat itu lembaga ini memfokuskan kegiatannya pada keilmuan beladiri tenaga dalam dengan nama Lembaga Pengembangan Ilmu Beladiri Tenaga Dalam Kalimasada. Tetapi pada 25 Oktober 1992 orientasi pelatihan lebih dititikberatkan pada terapi untuk kesehatan. Berkaitan dengan itu nama lembaga disesuaikan menjadi Lembaga Pengembangan Ilmu Terapi Tenaga Dalam Kalimasada. Selanjutnya pada ulang tahun ke-3 Kalimasada di Gedung Go Skate Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1994 diresmikan nama baru Kalimasada menjadi Lembaga Pengembangan Ilmu Terapi Tenaga Dalam Kalimasada atau disingkat LPI Tetada Kalimasada. 16. Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Pada suatu pertemuan, Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa dipanggil Gus Mus bercerita kepada Dr. Suharbillah tentang semakin surutnya dunia persilatan di halaman pesantren. Hal ini ditandai dengan hilangnya peran pesantren sebagai padepokan pencak silat. Sejak jaman walisongo, kyai-kyai pesantren adalah juga pendekar yang mengajarkan ilmu pencak silat di pesantrennya masing-masing. Namun seiring waktu, kenyataan tersebut mulai hilang. Terutama disebabkan semakin padatnya jadwal pendidikan pesantren karena orientasi penerapan standar pendidikan modern. Di luar pesantren, aneka ragam perguruan pencak silat tumbuh semakin menjamur dengan misi pengembangan agama dan kepercayaan dengan menggunakan pencak silat untuk menarik minatnya. Selain itu perguruan-perguruan tersebut sering merasa kelompoknya yang terkuat dan memunculkan permusuhan yang menyebabkan bentrokan dan tawuran. Karena prihatin atas hal tersebut, Ahmad Mustofa Bisri kemudian menyarankan Dr. Suharbillah untuk menemui Maksum Jauhari di Kediri untuk membahas persoalan tersebut. Maksum Jauhari atau yang biasa dipanggil Gus Maksum adalah pendiri Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia atau disingkat GASMI pada tanggal 11 Januari 1966 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. GASMI merupakan hasil penyatuan dari training-training pencak silat yang dilakukan oleh Gus Maksum kepada masyarakat untuk bekal dalam menghadapi teror Partai Komunis Indonesia PKI dan sebagai tandingan atas berkembangnya Lembaga Kebudayaan Rakyat Lekra, organisasi kebudayaan yang berafiliasi ke PKI. Salah satu kegiatan GASMI adalah mengadakan Pencak Dor, yaitu pertandingan tarung bebas di panggung terbuka sebagai sarana silaturahmi sesama pendekar dan media dakwah pemuda. Konon, gerakan pelatihan pencak silat di Lirboyo cikal bakal GASMI ini sudah dirintis sejak sekitar tahun 1915 oleh kakeknya Gus Maksum, yaitu Abdul Karim atau dikenal juga dengan Mbah Manab. Kegelisahan serupa juga dirasakan oleh Syansuri Badawi di Tebuireng, Jombang. Beliau menyayangkan maraknya tawuran antar anggota perguruan pencak silat yang meresahkan masyarakat, terutama di kawasan Kabupaten Jombang dan sekitarnya. Kemudian Kyai Syansuri berinisiatif menemui Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang pada waktu itu diketuai oleh Hasyim Latif untuk menyampaikan hal tersebut. Selanjutnya Hasyim Latif mengutus Sekretaris PWNU Jawa Timur Ghofar Rahman, bersama Ahmad Buchori Susanto dan Dr. Suharbillah, untuk menemui Maksum Jauhari di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam pertemuan ini disepakati untuk membentuk sebuah wadah pencak silat yang menaungi seluruh perguruan pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama. Gus Maksum kemudian mulai merangkul beberapa perguruan pencak silat di Karesidenan Kediri, di antaranya yaitu Jiwa Suci di Kediri, Garuda Loncat di Blitar, dan Asta Dahana di Kediri. Pertemuan berikutnya untuk menggodok konsep wadah pencak silat NU tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Tebuireng pada tanggal 27 September 1985. Pertemuan ini dihadiri oleh beberapa pengasuh pondok pesantren dan para pendekar dari berbagai perguruan pencak silat, di antaranya yaitu Maksum Jauhari dari Lirboyo, Abdurrahman Utsman dari Jombang, Muhajir dari Kediri, H. Athoillah dari Surabaya, Drs. Lamro Asyhari dari Ponorogo, Timbul Jaya dari Lumajang, Ahmad Buchori Susanto, Dr. Suharbillah, dan beberapa pendekar lainnya dari Cirebon, Kalimantan, Pasuruan, dan Nganjuk. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang salah satunya adalah dibentuknya suatu ikatan bersama untuk mempersatukan berbagai perguruan pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Mengacu kepada surat keputusan resmi pembentukan tim persiapan pendirian ikatan pencak silat NU, maka diadakanlah pertemuan lanjutan di Pondok Pesantren Lirboyo pada tanggal 3 Januari 1986. Pertemuan itu dihadiri oleh pendekar-pendekar dari Ponorogo, Jombang, Kediri, Nganjuk, Pasuruan, Lumajang, Cirebon, dan Kalimantan, serta beberapa perwakilan PWNU Jawa Timur. Musyawarah di Pondok Pesantren Lirboyo ini sekaligus menandai lahirnya Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa atau disingkat IPSNU Pagar Nusa. Nama itu diciptakan oleh Mujib Ridlwan dari Surabaya, putra Ridlwan Abdullah pencipta lambang Nahdlatul Ulama. Pagar Nusa merupakan akronim dari pagarnya NU dan bangsa. Wadah organisasi ini tetap membuka keanekaragaman dan memberi keleluasaan kepada masing-masing perguruan pencak silat untuk mengembangkan diri dan mempertahankan ciri khasnya masing-masing, termasuk di antaranya yaitu GASMI, Batara Perkasa, Satria Perkasa Sejati, Nurul Huda Perkasya, Cimande, Sakera, Tegal Istighfar, Bintang Sembilan, Sapu Jagad, dan sebagainya. Pada pertemuan ini juga disusun kepengurusan awal dengan mengangkat Maksum Jauhari sebagai Ketua Umum IPSNU Pagar Nusa. Pada saat Muktamar Nahdlatul Ulama ke-31 tahun 2004 di Boyolali, IPSNU Pagar Nusa dijadikan sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama yang membidangi pengembangan seni beladiri. Berdasarkan hasil Kongres Pagar Nusa ke-2 tahun 2012 di Pondok Pesantren Sunan Drajat di Lamongan, nama organisasi ini dirubah menjadi Pencak Silat NU Pagar Nusa atau disingkat PSNU Pagar Nusa.