lawasSumbawa ialah tema Ketuhanan, kemanusiaan, sosial, percintaan,perkawinan, perpisahan, filsafat, nasihat pergaulan, dan kehidupan tauladan, (4) Amanat lawas Sumbawa adalah tentang cara hidup sehat, disiplin, kasih sayang, pergaulan hidup, nasihat kehidupan, semangat gotong
LawasTau Loka, lawas yang isinya tentang nasehat atau pesan bersifat dedaktis yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya atau kepada yang lebih muda. Lawas ini biasanya berisikan ajaran moral, agama dan lawas ini sering dipakai untuk menasehati pasangan pengantin. Pati pelajar we ate Patuhi ajaran wahai sukma
BudayawanSumbawa, Dinullah Rayes menjelaskan, bahwa lawas pada mulanya berinduk pada bahasa Sumbawa yang tidak bisa dideteksi kapan mulai tumbuh/hadir ditengah masyarakat. Namun, kehadirannya dalam kehidupan masyarakat Samawa, berawal sebagai alat ekspresi batin manusia yang diliputi oleh rasa haru, sendu gunda-gulana, mungkin disebabkan oleh musiba atau datangnya marabahaya yang mengancam hidupnya.
Kaliini saya ingin mengulas tentang bagaimana Adat Pernikahan Masyarakat Sumbawa khususnya masyarakat Sumbawa bagian barat dan timur. Adapun tahapan - tahapan dalam pernikahan pada masyarakat Sumbawa yaitu : J BAJAJAK (Silahturrahmi antar kedua belah pihak keluarga) Bajajak adalah pertemuan dua keluarga, atau silahturahhmi antar kedua keluarga.
Lawas Sayang; Taruna Loas (Bujang Lapuk) Pasangan Mabuk Cinta; Kecewa Di Tolak Cinta; Lawas: Suara Hati Janda Mati; Lawas: Tu Rapanan (?) Lawas: Buah Ate; Lawas: Numpu (Jempol) Lawas: Permintaan Janda; Lawas: Taliwang; Lawas: Rayuan Maut; Lawas: Cemburu; Lawas: Balu Ngantung; Lawas: Nasehat Tu Kasepak; Lawas: Cinta Andra & Dewi; Lawas: Belajar; Lawas; Pasangan Setia
vTujuan penciptaan lawas adalah untuk memberikan pandangan/cerminan kepada masyarakat Samawa, bahwa dalam lawas terdapat nilai (nasehat), pandangan hidup, kepercayaan, cara berfikir, dan nilai budaya (etnis Samawa) yang patut diteladani oleh masyarakatnya, baik dalam hubungannya dimasa lalu, masa sekarang, maupun untuk masa yang akan datang.
Home» Kumpulan Lawas Samawa, LOMBA BLOG SUMBAWA 2015 » Lawas Sumbawa - SALING SATOTANG
Lawas(puisi lisan tradisional) yang merupakan cermin jiwa anak-anak, getar sukma muda-mudi dan orang tua. Sejarah Lawas Lawas yang dikenal sejak dahulu hingga sekarang ini tidak dimiliki oleh perorangan tetapi merupakan milik bersama turun-temurun. Ahli lawas menurunkan kepada anak cucunya secara lisan. Lawas itu tidak ditulis dalam buku khusus.
LawasTau Loka, lawas yang isinya tentang nasehat atau pesan bersifat dedaktis yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya atau kepada yang lebih muda. Lawas ini biasanya berisikan ajaran moral, agama dan lawas ini sering dipakai untuk menasehati pasangan pengantin. Pati pelajar we ate (Patuhi ajaran wahai sukma)
Sumbawaadalah lawas. 2.2 Hakikat Lawas Lawas merupakan puisi rakyat yang menggunakan bahasa Sumbawa baik lisan maupun tulisan untuk mengekspresikan atau mengungkapkan perasaan hati dalam berbagai peristiwa. Juanda (2016) menyatakan, lawas adalah sastra lisan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Sumbawa untuk mengungkapkan isi hati
w7ALJpo. Gandang adalah Lawas yang dilantunkan oleh sekelompok orang dengan diiringi Serunai seruling atau pukulan alu pada lesung Nunya Rame. Gandang dilantunkan oleh sekelompok perjaka dan gadis, apabila sekelompok perjaka dan gadis melantunkan Gandang dengan iringan serunai maka disebut Gandang Suling, jika diiringi dengan pukulan alu pada lesung disebut Gandang nunya/nunya rame. Gandang suling biasanya dilantunkan dalam suasana gembira karena hasil panen berlimpah, karena itu, Lawas-Lawas yang dilantunkan biasanya merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa. Gandang suling juga dilantunkan pada malam hari oleh dua orang pemuda yang salah satunya sedang jatuh cinta dan biasanya dilantunkan di tengah sawah saat menjelang padi menguning atau di tempat yang dekat dengan rumah si gadis yang diincar oleh pemuda itu. Lawas yang diungkapkan merupakan ungkapan kasih sayang, cinta, dan janji-janji sang pemuda kepada sang gadis. Gandang selain diiringi oleh Serunai juga ada yang diiringi oleh pukulan alu pada lesung, ini yang disebut dengan Gandang nuja/Nunya Rame. Gandang nuja biasanya dilakukan oleh sekelompok pemudi yang sedang menumbuk padi. Gandang Nuja/Nunya Rame hanya dilakukan pada saat para wanita sedang bergotong royong menumbuk padi di halaman rumah kala bulan terang benderang. Pekerjaan ini dilakukan oleh para wanita untuk membantu tetangga menyiapkan beras ketan yang akan digunakan untuk hajatan. Pada saat seperti ini, biasanya para jejaka datang menyaksikan sambil memperhatikan siapa yang bakal dijadikan pasangan hidupnya mencari jodoh. Lawas-Lawas yang dilantunkan biasanya Lawas muda-mudi yang berisi sindiran, ejekan, dan ungkapan-ungkapan rasa cinta. Berikut petikan Lawas Gandang. Ajan sampama kulalo Kutarepa bale andi Beling ke rua e nanta Seandainya aku bertandang. Mampir di rumah adinda. Adakah gerangan belas kasihan. Dijawab oleh si gadis Lamin tetapmo pang sia Bose sangangkang let rea Naq beang bilu lako len Kalau tetap pendirian. Kayuhlah dayung ke samudra. Jangan berpaling pada yang lain. Sumber Lawas merupakan seni yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan adat sumbawa. Kami memiliki banyak kumpulan lawas sumbawa yang bertema nasehat, rayuan atau percintaan kunjungiKumpulan Lawas Sumbawa Kami Klik Disini.
LAWAS DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUMBAWA Fathi Al-Qadri LAWAS Seni sastra yang sangat menonjol di Sumbawa adalah seni sastra “Lawas.” Lawas bagi masyarakat Sumbawa bukan sekadar seni sastra, namun Lawas juga sebagai media hiburan yang dapat dipertunjukkan dan atau dipertontonkan. Lawas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumbawa. Lawas diwariskan dan diturunkan dalam bentuk lisan. Lawas bagi masyarakat Sumbawa menjadi sumber dari segala sumber seni. Lawas akan dilantunkan kedalam berbagai bentuk seni, meliputi Seni Balawas, Rabalas Lawas, Malangko, Badede, Badiya, Bagandang, Bagesong, Sakeco, bahkan tutur atau cerita pun disampaikan dalam bentuk Lawas. Dalam Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia dikatakan bahwa Lawas adalah sejenis puisi tradisi khas Sumbawa, umumnya terdiri atas tiga baris, biasa dilisankan pada upacara-upacara tertentu. Pengertian Lawas pada Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia belum dapat dikatakan lengkap, karena Lawas juga ada yang terdiri atas empat baris, enam baris, dan ada juga yang delapan baris dalam tiap bait. Lawas sebagai puisi lisan tradisional masyarakat etnis Sumbawa dapat kita nikmati dalam berbagai bentuk pertunjukkan. Lawas dipertunjukkan dalam dua bentuk, meliputi 1 dipanggung dan 2 pada saat orang bekerja di sawah, di ladang, saat gotong royong membangun rumah, mengasuh anak, saat upacara adat, saat Karapan Kerbau, Barampok sebagai sebuah tradisi. Lawas yang dilantunkan pada saat beraktivitas biasanya untuk mengurangi rasa sepi, sebagai hiburan, mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang dilakukan, dan sebagainya. Kehadiran Lawas di Sumbawa tidak diketahui secara pasti. Kehadiran Lawas bagi masyarakat Sumbawa pada awalnya berperan sebagai media ekspresi batin manusia dan sebagai perekam peristiwa yang terjadi di seputarnya. Apa yang tampak atau yang dipikirkan oleh masyarakat Sumbawa tempo dulu biasanya akan disampaikan melalui Lawas. LAWAS ULAN Lawas Ulan adalah Lawas yang disampaikan berdasarkan konsep kewaktuan. Lawas Ulan tidak boleh diucapkan sembarangan, sebab untuk memulai Lawas Ulan menggunakan penanda waktu. Penanda waktu dapat diperhatikan pada saat Lawas mulai tembangkan. Penanda waktu itu bukan berdasarkan jam, sebab jam pada saat itu di Sumbawa. Penanda waktu yang digunakan adalah berupa keadaan, waktu pagi hari, siang, sore, dan malam hari. Penanda waktu yang dimaksud adalah sebagai berikut Ta Pola Adal Nenrang Jong. Kata yang bergaris bawah di samping adalah penanda waktu. Adal dalam bahasa Indonesia adalah embun atau kabut. Lawas Ulan ano Siup dan ano rawi memiliki perbedaan. Perbedaan antara Lawas ulan ano Siup dan ano rawi terletak pada irama dan tempo lagunya. Lawas ulan di ano Siup iramanya agak mengalun dengan tempo yang lambat, sedangkan Lawas ulan di ano rawi irama alunannya tinggi dengan tempo yang dinamis. LAWAS ULAN SIUP Lawas ulan Siup adalah Lawas yang disampaikan pada pagi hari dengan menggunakan irama dan tempo lagu yang lembut. Lawas ini biasanya disampaikan saat para petani akan berangkat ke sawah/lading atau saat orang-orang sedang menanam padi atau menuai padi secara beramai-ramai di pagi hari sekitar pukul Wita. Berikut ini Lawas ulan Siup. Permulaan Lawas Ulan Siup selalu menggunakan Lawas berikut dan Lawas berikut selalu dimulai oleh laki-laki, contoh Yamubuya Ijo Godong Puin Palemar Parai Ta Pola Adal Nenrang Jong Kau cari si hijau daun. Pohon yang penuh dengan air. Ini karena embun yang menetes Akusi Datang Nenrang Jong Lamin Tenrang Baeng Desa Pitu Ten Nosi Kumole Aku yang datang menetes. Bila ramah seisi kampung. Tujuh tahun tak kupulang. Setelah dua bait Lawas di atas, maka Lawas selanjutnya bisa apa saja tergantung situasi dan kondisi emosi dan perasaan si pelantun Lawas. Perhatikan sair Lawas ulan berikut Kakendung Ling Kuandi E Kupina Pangasa Kau No Tutu Sai Yabola Terlanjur kuucapkan adinda. Kau yang kuharapkan. Tak tahu siapa yang berdusta. LAWAS ULAN PANAS ANO Lawas Ulan Panas Ano adalah Lawas yang disampaikan pada saat siang hari, saat matahari sedang terik/ panas-panasnya. Lawas Ulan Panas Ano berirama dan bertempo tinggi sebagai gambaran semangat. Lawas Ulan Panas Ano disampaikan pada siang hari sekitar pukul Wita. Berikut adalah Lawas Ulan Panas Ano. Kakendung Ling Kuandi E Kupina Pangasa Kau Sipak Lalo Gandeng Jangi Terlanjur ucapku wahai adinda. Menaruh harapan kepadamu. Tak tahunya kamu setengah hati. Kasijangi Ku Ke Kau Mikir Ate Totang Rara Leng To Diri Melasakan Kuberharap berjodoh denganmu. Hatiku mikir aku miskin. Tahu diri tak punya apa-apa Melasakan Nanta Rara Ngining Buya Tuyapendi Kamina Tingi Konang Mal Merana karena miskin. Mencari orang yang mengasihan. Pamanda mulia tapi malu. LAWAS ULAN RAWI ANO Lawas Ulan Rawi Ano adalah Lawas yang disampaikan sore hari, selepas shalat Asar. Lawas Ulan Rawi Ano berirama sendu dan tempo mulai turun dibandingkan dengan Lawas Ulan Panas Ano. Lawas Ulan Rawi Ano biasanya menggambarkan sebuah kesedihan atau pun kebahagiaan. Kondisi sedih dan bahagia bisa terjadi, jika sipelantun Lawas laki-laki diterima oleh pelantun Lawas wanita. Lawas Ulan Rawi Ano adalah Lawas penutup untuk pekerjaan Mataq Rame panen raya pada hari itu. Berikut adalah petikan Lawas Ulan Rawi Ano. Pina ne Anak tungining Tili ano gama mega Lema rep sakiki rara Melangkahlah si Anak merana. Tutuplah mentari wahai awan. Agar teduh si miskin bernaung. Rara inaqku sapuan Nosoda dengan kamikir Pang aku dua ke leno Miskin ibuku dahulu. Tiada teman berpikir. Padaku hanya bersama bayangan. Muto beling gama leno Lema tulung aku mikir Kau baesi kuasa Bicaralah wahai bayangan. Tolonglah aku berpikir. Hanya engkau yang kuharapkan. GANDANG Gandang adalah Lawas yang dilantunkan oleh sekelompok orang dengan diiringi Serunai seruling atau pukulan alu pada lesung Nunya Rame. Gandang dilantunkan oleh sekelompok perjaka dan gadis, apabila sekelompok perjaka dan gadis melantunkan Gandang dengan iringan serunai maka disebut Gandang Suling, jika diiringi dengan pukulan alu pada lesung disebut Gandang nunya/nunya rame. Gandang suling biasanya dilantunkan dalam suasana gembira karena hasil panen berlimpah, karena itu, Lawas-Lawas yang dilantunkan biasanya merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa. Gandang suling juga dilantunkan pada malam hari oleh dua orang pemuda yang salah satunya sedang jatuh cinta dan biasanya dilantunkan di tengah sawah saat menjelang padi menguning atau di tempat yang dekat dengan rumah si gadis yang diincar oleh pemuda itu. Lawas yang diungkapkan merupakan ungkapan kasih sayang, cinta, dan janji-janji sang pemuda kepada sang gadis. Gandang selain diiringi oleh Serunai juga ada yang diiringi oleh pukulan alu pada lesung, ini yang disebut dengan Gandang nuja/Nunya Rame. Gandang nuja biasanya dilakukan oleh sekelompok pemudi yang sedang menumbuk padi. Gandang Nuja/Nunya Rame hanya dilakukan pada saat para wanita sedang bergotong royong menumbuk padi di halaman rumah kala bulan terang benderang. Pekerjaan ini dilakukan oleh para wanita untuk membantu tetangga menyiapkan beras ketan yang akan digunakan untuk hajatan. Pada saat seperti ini, biasanya para jejaka datang menyaksikan sambil memperhatikan siapa yang bakal dijadikan pasangan hidupnya mencari jodoh. Lawas-Lawas yang dilantunkan biasanya Lawas muda-mudi yang berisi sindiran, ejekan, dan ungkapan-ungkapan rasa cinta. Berikut petikan Lawas Gandang. Ajan sampama kulalo Kutarepa bale andi Beling ke rua e nanta Seandainya aku bertandang. Mampir di rumah adinda. Adakah gerangan belas kasihan. Dijawab oleh si gadis Lamin tetapmo pang sia Bose sangangkang let rea Naq beang bilu lako len Kalau tetap pendirian. Kayuhlah dayung ke samudra. Jangan berpaling pada yang lain. SAKETA Saketa adalah Lawas yang dikumandangkan oleh sekelompok orang sebagai pernyataan kegirangan atau pembangkit semangat saat mengadakan permainan rakyat atau bergotong-royong membangun rumah, mengangkut kayu besar. Di tengah-tengah orang yang baSaketa, biasanya muncul salah seorang yang mengumandngkan Lawas Saketa yang kemudian disambut serempak oleh anggota kelompok/rombongan dengan suara “ho… bam… baho… bam….” dan seterusnya. Suara-suara pemberi semangat ini disebut dengan Gero/Bagero. Lawas Saketa yang di rangkaikan dengan Gero dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan berat, Barapan Kebo karapan Kerbau, permainan rakyat Barampok/Barempuk tinju ala Sumbawa. Saketa dan Bagero digunakan juga untuk upacara mengiring pengantin Iring Pangantan dari rumah pihak laki-laki ke rumah calon pengantin wanita. Adapun Lawas yang disampaikan saat itu adalah Pangantan ntek Rawi Ano Iring leng mayung satupang Lamin no buta batempang Tuk tak ne mayung Jontal satetak jadi payung Suara rombongan “ho… bam… baho… bam….” Pengantin berangkat sore hari—diiringi serombongan kijang—kalau tidak buta ya pincang—tuk tak wahai kijang—lontar sepotong jadi payung Tradisi Saketa di Sumbawa saat ini sulit ditemukan lagi. Ini disebabkan oleh karena pembangunan rumah di Sumbawa sudah tidak bergotong-royong lagi dan kalaupun ada sudah tidak lagi diadakan BaSaketa. Lawas-Lawas yang disampaikan pun biasanya adalah Lawas yang bersifat menggalang persatuan dan kebersamaan dengan penuh semangat. Ngumang Seorang pria yang menembangkan Lawas dengan lantang sambil mengacungkan dan atau merentangkan kedua tangannya, di salah satu tangannya memegang Mangkar cambuk khas Sumbawa yang khusus digunakan untuk menghalau kerbau pada saat “Barapan Kebo” karapan kerbau sambil menari mengelilingi arena. Ngumang hanya dilakukan pada saat Barapan Kebo, Maen Jaran dan Barampok. Ngumang dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan kegembiraan karena telah menang, baik pada saat Barapan Kebo maupun pada saat Barampok. Ngumang juga bertujuan untuk memberikan semangat kepada peserta Barapan Kebo dan Barampok sekaligus juga berfungsi untuk memperkenalkan diri kepada penonton. Peserta yang menang biasanya akan Ngumang dan menyampaikan Lawas. Lawas Ngumang bisa seperti petikan Lawas berikut. Ala e sai nongka tan Makatoan lako aku Sa nya baing Gila Roda Siapakah yang belum mengenal—tanyalah padaku—inilah pemilik Gila Roda nama kerbau’ BADEDE Badede adalah menembangkan Lawas yang ditujukan untuk Anak menjelang tidur atau saat pangantin sedang Barodak luluran’. Lawas yang biasa dinyanyikan oleh seorang ibu atau kakak yang sedang menina-bobokan atau mengasuh bayi disebut Badede Anak. Lawas yang dilantunkan pada saat Badede Anak bertemakan permohonan kepada Tuhan Yang Mahaesa agar Anak yang diasuh dapat panjang umur, berguna bagi orang tua, masyarakat, nusa dan bangsa serta agama. Badede Anak disebut juga Lawas Kembang-Kembong. Lawas yang digunakan pada saat Badede Anak tidak sama, tergantung pada umur dan pada tempat dimana Anak ditidurkan. Perbedaan itu terlihat pada irama dan kata-kata dari Lawas yang digunakan. Berikut ini contoh Lawas yang biasa digunakan pada kegiatan Badede Anak. Matunung adi matunung Meleng tunung kubeang me Jangan jadi kembo kopang mari tidur adik mari tidur—bangun tidur kuberi nasi—ikan susu kerbau sehat Adi ode dalam bilik Nyentik ima poyong mama Sadua kita gamandi Adik Mungil dalam kamar—lentik indah jemarimu—kita ini hanya berdua wahai adinda Badede Adat hanya berkembang di kalangan bangsawan Samawa Sumbawa. Badede Adat dilaksAnakan pada saat upacara perkawinan dan Sunat Rasul khitanan. Badede Adat ditembangkan oleh beberapa wanita sambil membunyikan Kosok Kancing sejenis marakas. Badede Adat dilantunkan dalam suasana yang relegius dan dihajatkan agar mereka yang menerima acara ini dalam keadaan selamat serta tidak mudah diganggu makhluk halus. Salah satu upacara yang diiringi Badede Adat adalah pada saat kegiatan Barodak luluran pengantin, baik pria maupun wanita keluarga bangsawan. Pengantin pada saat mau di-Odak dilulur, maka sekelompok wanita melantunkan Lawas Badede Adat. Lawas yang dilantunkan pada saat Barodak adalah sebagai berikut. Dede Intan Mua Dewa Mua Bulaeng Do Nanta Penangmo Intan Manmo Nanges Duhai sayang duhai para Dewa—wahai permata duhai sayang—tenanglah sayang jangan menangis Lamin Leq Tawar Ate Dome No Mane Parana Siong Untung Sama Rela Untung Tusaling Sasakit Bila lama kau menangis—andaikan tidak merusak tubuh—bukanlah jodoh sama rela—jadinya jodoh pangkal sengsara Penangmo Intan Manmo Nangis Beang Boe Ling Tutingi Kita Tupasodo Rara Pasodo Apa Pasodo Tenanglah sayang jangan menangis—biarkan habis oleh yang mulia—kita hanya mendekap dalam kemiskinan—milikilah apa yang kau miliki BASUAL Kata basual berasal dari kata sual yang mendapat awalan ba-, sual berarti soal, sedangkan ba- berarti menjadi. Jadi, basual artinya menyampaikan soal. Seseorang yang mengajukan soal yakni dengan menyampaikan sampiran dari sebuah Lawas. Bagi yang hadir dalam kesempatan tersebut dan mengetahui jawabannya, maka akan segera menjawabnya. Jawaban yang disampaikan adalah isi dari sampiran yang dikemukakan. Kegiatan Basual dapat dijumpai pada saat orang sedang membuat atap rumah Nyantek, panen Mataq Rame, di rumah orang yang mau kawin Montok Basai, dan lain-lain. Contoh petikan Lawas Sual. Ayam Buri Desa Utan Parak Ke Desa Samamung Ana Badi Kuring Rate Meporiri Ku Ta Intan Jarang Kubau Batemung Rosa Dadi Rusak Ate Ayam burik desa Utan—dekat dengan desa Samamung—ada badikku di rate. Betapalah caraku duhai kekasih—sangat jarang kita bertemu—hancul luluh hatiku Lalo Mancing Ko Pamulung Entek Lako Desa Pungka Kupandang Desa Malili Lalo Kau Manjeng Urung Kukelek No Balik Bungkak Mumandang Adasi Lili pergi memancing ke Pamulung—naik ke desa pungka—kupandang desa Malili. Pergilah engkau kekasih urung—kupanggil menoleh pun tidak—kau kawin ada juga penggantimu LANGKO Langko merupakan penyampaian Lawas yang dilakukan oleh sekelompok pemuda dan kelompok pemudi yang saling beradu Lawas cinta. Lawas-Lawas yang disampaikan dalam Langko berbeda dengan Lawas Sual. pada saat Malangko, Lawas yang disampaikan harus dijawab dengan Lawas, yang perlu diperhatikan dalam Malangko adalah langgam lagu Lawas yang dibawakan. Langgam lagu Langko ini yang sangat diperhatikan oleh si pelantun, selain juga Lawasnya. Jika tidak mampu mengikuti langgam lagu Langko, maka dianggap kalah, ditertawakan, dan juga malu. Mereka yang akan ikut Malangko harus orang-orang yang pandai baLawas dan juga pandai menembangkan langgam Langko. Kegiatan Malangko biasanya dimanfaatkan oleh para muda-mudi untuk mencari jodoh, oleh karena itu muda-mudi di Sumbawa pada waktu itu berusaha semaksimal mungkin untuk bisa BaLawas. Mereka yang bisa BaLawas di Sumbawa akan mempunyai pergaulan yang luas. Di Sumbawa ada dikenal tiga jenis orang, yakni Nyir Tamat Telu bisa membaca Al-Quran; bisa Ratob; dan bisa BaLawas. Lawas Langko. Putra Kusamula Ke Bismillah Kusasuda Ke Wassalam Nan Ke Salamat Parana kumulai dengan bismillah-kuakhiri dengan wassalam-agar diri jadi selamat Putri Rungan Rame Boat Sia Bagentar Tana Samawa Batomo Nyata Kugita kabarnya meriah pesta Tuan—bergetar tanah Sumbawa—kini nyatalah sudah Putra Tugitaq Nyata Ke Mata Riam Mara Den Baringin No Bola Ne Bawa Rungan nyata terlihat mata—lebat bagai daun beringin—tidak bohong pembawa berita Putri Rungan Balongmu Andi E Kaleng Empang Ko Sakongkang Nomonda Dengan Kubaning tersiar kecantikanmu duhai dinda—dari empang ke Sekongkang—tiada tanding tiada banding SAKECO Sakeco merupakan salah satu bentuk seni yang bersumber dari Lawas. Sakeco banyak digemari oleh masyarakat Tau Samawa Sumbawa. Sakeco dimainkan oleh dua orang pria yang merupakan pasangannya dan masing-masing memegang satu rabana rebana. Rebana yang digunakan adalah bisa Rabana Ode atau Rabana Rango/Rabana Kebo Rebana Besar. Penggunaan dua jenis rebana ini didasarkan pada temung yang akan digunakan. Hanya saja, pada saat Sakeco, rabana yang digunakan harus sejenis. Perbedaan penggunaan dua jenis rabana ini karena perbedaan Temung nada lagu, dan isi Sakeco. Rabana Ode lebih lincah, agresif, lebih variatif, dan jika ditabuh maka akan lebih cepat. Rabana Ode biasa dipakai untuk memainkan temung Sakeco Ano Rawi, sedangkan Rabana Kebo selain mengeluarkan suara lebih besar, temponya lambat, dan juga lebih monoton dari segi nada. Rabana Kebo biasanya digunakan oleh sebagian besar orang Sumbawa Ano Siup. Sakeco merupakan seni yang sangat luwes dan dinamis dibandingkan dengan yang lain. Sakeco dapat dimuati oleh Lawas Nasihat pamuji; Lawas Tau Loka, Lawas Muda-mudi, Lawas tode yang dibuat dalam bentuk tutur cerita naratif.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pembelajaran yang aktif inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan PAIKEM merupakan pendidikan ideal yang harus diupayakan oleh semua pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Pelaksanaan pendidikan yang berorientasi pada PAIKEM ini sesungguhnya mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa, sehingga melahirkan anak sebagai pebelajar sepanjang yang baik juga mampu menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai pondasi dasar dan karakter pendidikan yang ada di daerah agar mampu memiliki ciri khas yang dapat diterima oleh setiap masyarakat sekolah. Sehingga dalam hal ini, menciptakan pembelajaaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal merupaakan solusi kreatif yang harus diwujudkan di dunia pendidikan yang ada dimasing-masing gagasan diatas dalam konteks keberadaan kearifan lokal suku Samawa, yang orientasinya bagi dunia pendidikan di Sumbawa sesungguhnya dapat memanfaatkan kearifan lokal yang khas dan menjadi identitas daerah, yaitu rabalas lawas dan basa Samawa. Fathi Al-Qadri dalam blog-nya www. mengartikan lawas sebagai seni sastra yang dapat juga sebagai media hiburan yang dapat ditunjukkan dan dipertotonkan. Lawas dalam hal ini merupakan syair tiga bait yang bisa berisi nasehat, doa, harapan, rayuan, candaan dan berita. Sedangkan basa Samawa diartikan sebagai bahasa Samawa atau bahasa asli orang Sumbawa. Keberadaan kedua kearifan lokal ini telah mulai mengalami pergeseran eksistensi di masayarakat. Padahal yang jikalau dilihat dari hakekatnya, kedua kearifan lokal ini merupakan media komunikasi yang sangat efektif untuk berinteraksi dengan lawan bicara agar dapat terjalin hubungan emosional yang semakin dekat dan akrab. Dengan demikian, sesungguhnya melihat realitas di dunia pendidikan di Sumbawa hasil dari pengamatan dan pengalaman penulis, yang dimana semangat belajar siswa baik di tingkat sekolah dasar hingga menengah atas cukup rendah, maka sesungguhnya dalam dunia pendidikan di Sumbawa harus memberikan angin segar yang dapat memancing siswa untuk memiliki semangat belajar yang tinggi. Semangat belajar siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor penentu baik secara eksternal maupun internal. Tapi secara umum, faktor-faktor tersebut bisa berupa adanya rasa takut dan kekhawatiran siswa baik terhadap guru dan materi pembelajaran yang akan diajarkan. Oleh karenanya, setiap guru dapat menggunakan tekhnik unik yang berbasis kearifan lokal untuk memulai kegiatan pembelajaran dengan saling berbalas lawas atau rabalas lawas dengan siswa. Tentu saja, isi lawas yang disampaikan bisa berupa nasihat belajar, isi yang berkaitan dengan materi, atau bisa juga berupa gurauan. Hal ini bertujuan agar siswa terkesan dengan guru, sehingga menjadi tertarik dengan materi pembelajaran yang akan proses pembelajaran juga, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan suatu hal yang sangat diwajibkan. Namun dalam hal ini, guru juga dapat memanfaatkan basa samawa untuk menjelaskan materi-materi yang dianggap sukar atau susah dipahami dalam bahasa nasional. Hal ini bertujuan untuk membangun komunikasi emosional antara guru dan siswa, sehingga materi yang disampaikan akan dapat dipahami oleh siswa. dan kemudian, sebagai pentup pembelajaran juga, guru dapat menginstruksikan antara siswa saling rabalas lawas, agar terciptanya kegiatan pembelajaran pada bagian akhir yang berkesan dan orientasi menyisipkan kearifan lokal asli Sumbawa ini, selain sebagai solusi guna memancing semangat siswa dalam belajar, hal ini dapat juga ajang pelestarian atas kerifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat harapan kedepannya, semua kegiatan pembelajaran yang ada di sekolah, utamanya di kabupaten Sumbawa dan Sumbawa barat dapat menggunakan cara ini. Karena mengingat dampak yang diberikan akan sangat besar. Daftar Pustaka diakses 7 April 2016 Lihat Humaniora Selengkapnya